Namaku Realita Agnes Lupita. Teman – temanku biasa
memanggilku Rea atau Realita. Orang bilang nama adalah doa, sepertinya hal itu
berlaku padaku. Aku Realita, yang selalu realistis. Aku jarang menggunakan
perasaanku dalam menilai sesuatu, aku lebih suka menggunakan logika. Karena
logika menurutku selalu lebih tepat dan mendekati fakta. Itu mungkin yang
kadang membuat teman – temanku bilang aku ini orang-yang-tidak-berperasaan.
Sebenarnya bukan tak berperasaan, hanya aku tidak memilih mengandalkan perasaan
dalam setiap langkah hidupku. Aku masih bisa menangis menonton film sedih,
membaca cerita – cerita menyayat. Meski beberapa menit setelahnya aku merasa
bodoh karena bagian otak mamaliaku bisa bisanya dipermainkan oleh pemicu –
pemicu rasa buatan manusia macam itu.
Hari ini aku berusia 23 tahun, sudah cukup dewasa.
Dan bisa ditebak topik apa yang selalu menyembur padaku. Jujur topik itu
menyebalkan sesekali.
“Re.. kapan lo nikah? Nanti perawan tua lo. Jangan
kerja mulu. Cari pasangan.”
Sekedar info, aku lulus kuliah sarjana 3,5 tahun.
Bekerja di salah satu perusahaan mancanegara paling prestisius di negara ini,
di bagian SDM. Aku terbiasa mengamati dan menilai orang.
“Masih asik sama kerjaan nih.” Jawabku santai
seperti biasa. Aku berbohong.
“Gue cariin deh.” Temanku Ara ini, selalu antusias
sekali menjodohkanku. Aku tidak mengerti kenapa hal ini menarik baginya. Apa
aku semengkhawatirkan itu? 23 tahun kan masih muda.
“Lo kenal Dery dari bagian keuangan kan?”
“Gak mau.”
“Kenapa?” Ara penasaran.
“Dia bukan orang yang konsisten.”
“Kan lo belom kenal jauh Re.”
“Gak perlu kenal lebih jauh gue udah tau. Pernah
kerja sama dia, dan dia mengecewakan.”
“Gak boleh ngejudge orang gitu Re.”
“Ini bukan soal ngejudge. Menilai orang adalah
persoalan hipotesis yang kemudian lo buktikan dengan validasi – validasi. Cuma soal
menghitung peluang kebenaran hipotesis yang dipunya aja Ra.”
Aku tahu Ara bingung. Ah biarlah, aku tak punya
kewajiban untuk menjelaskan detail apa yang kupikirkan.
“Seperti biasa, bahasa lo ketinggian banget hahaha.
Gue mau bilang, lo punya potensi besar untuk mendapatkan orang seperti apapun
yang lo inginkan. Jadi jangan sia siakan itu, bunga itu ga lama mekarnya Re.
Waktu akan membuatnya layu dan tidak menarik lagi.”
Aku hanya bergumam mengangguk. Malas mendebat
sahabatku itu. Aku tahu, aku punya segala kemampuan untuk memanipulasi orang
untuk menyukaiku. Meski aku tak pernah melakukannya kecuali untuk urusan –
urusan negosiasi bisnis. Aku tahu apa yang manusia suka dan manusia tidak
sukai, dan jujur saja kalau semua orang sadar mengenai hal ini. Perempuan
manapun bisa mendapatkan laki – laki manapun yang dia mau. Dan laki – laki manapun
bisa mendapatkan perempuan manapun yang dia mau. Sayangnya sedikit sekali
manusia yang mempelajari hal ini. Aku sejak kecil mempelajarinya, hanya tak
pernah memilih untuk menggunakannya. Karena hal itu, sama saja membohongi diri
sendiri. Permata memang bisa membuat banyak orang menyukainya, tapi toh yang
kelak memilikinya kan hanya satu orang saja.
Jam makan siang, sudah bisa kuduga ada orang yang
akan mengirimkan pesan singkat padaku. Sama seperti delapan tahun belakangan
ini.
Hei
Re. Jangan lupa makan siang. :)
Paling – paling begitu isinya. Aku sudah tidak
pernah membuka lagi pesan dari nomor itu. Sudah ada ratusan pesan. Sudah ada
ribuan hari aku memberi isyarat bahwa aku tidak menyukai si pengirim pesan.
Tama, teman SMA ku. Serangga pengganggu nomor satu di antara serangga lainnya
yang juga mengganggu hari – hariku saja.
“Emang kurangnya Tama apa sih Re?” Suatu hari Ara pernah
penasaran tentang hal ini. “Ganteng, atletis, pinter, kaya pula. Dan lagi dia
lulusan Harvard. Bentar lagi dia mau ambil integrated
program doktoral di sana juga. Kurang waw apa coba.”
Mataku berputar, letih dengan pertanyaan Ara.
“Justru karena dia hebat. Itu membuat gue muak.
Kehebatannya itu membuat dia merasa dia bisa mendapatkan segalanya, termasuk
bisa mendapatkan gue. Gue merasa gue ga lebih dari obsesi yang perlu dia
menangkan, piala yang perlu dia dapatkan dari kompetisi imajiner yang ada di
kepalanya.”
“Come on. Lagi
lagi itu kan cuma asumsi lo Re. Mana tau dia ga kayak gitu.”
“Gue kenal dia udah delapan tahun Ra. Cukup untuk
tahu orang seperti apa dia. Lagi pula, gak semua perempuan suka dikejar –
kejar. Mengejar orang yang jelas – jelas menolak lo itu cuma nunjukkin kalo
orang itu gak punya harga diri demi ngejar obsesinya.”
“Gimana kalo menurut dia lo adalah perempuan langka
yang memang layak diperjuangkan?”
“Di antara semua tingkah sok perhatiannya selama
delapan tahun. Dia gak pernah tuh berani dateng ke ayah gue. Kalo memang gue
adalah perempuan yang segitu layaknya untuk diperjuangkan harusnya dia
melakukan itu dulu sebelum memberikan segala jenis perhatian memuakkan itu.”
“Ooo jadi lo ngarep dia dateng ke ayah lo? Nih sebenernya?
Ciee.”
“Bukan itu pointnya Ra. Intinya dia cuma buang –
buang waktu kasih perhatian ke gue. Semacem kaya melakukan sebuah permainan,
sementara langkah paling strategis dan menunjukkan keseriusan aja ga pernah
terpikirkan. Itu ngebuktiin kalau dia ga lebih dari seseorang yang masih
kekanakkan.”
“Gimana kalo dia belom siap aja?”
“Gue ga mau ngeladenin yang ga siap. Buang – buang waktu
gue.” Lagi – lagi aku berbohong. Nyatanya, aku menunggu seseorang yang entah
kapan siapnya. Di antara semua hal yang kupercayai dan kuyakini ada seseorang
yang selalu jadi pengecualian.
“Re.. sebenernya lo mau sama orang yang sehebat apa
sih Re?”
Aku diam. Dia tidak perlu hebat Ra, kataku dalam
hati.
—–
“Gilang jadi kapan lo lulus? Masih betah aja di
kampus.” Tanyaku pada seorang teman kuliahku. Teman yang sesekali menghubungiku
lewat personal chat. Ia masih belum
juga lulus padahal ini sudah tahun ke enamnya di kampus.
“Semester ini Re. Doain yak.”
“Oke. Always.”
Klik. Enter. Pembicaraan yang selalu sesingkat itu.
Gilang, teman yang kukenal sejak hari pertama ospek
tingkat kampus. Ia teman pertamaku di hari pertamaku. Laki – laki pertama yang
kukenal dan membuatku mulai sadar bahwa aku sudah bukan anak kecil lagi. Sejak
pertama kali bertemu dengannya aku tahu dia berbeda denganku. Aku serius dia santai,
aku rapi dia berantakan, aku dingin dia ekspresif, aku logis dia imajinatif.
Hal yang sama adalah kami para pemimpi. Sejak dulu kami selalu menyukai
kegiatan – kegiatan berpikir tentang ide – ide gila. Dia dan aku adalah rekan
kerja yang tak terkalahkan. Apapun yang kulakukan karya apapun yang kuciptakan bersamanya
selalu mampu membuat orang lain tercengang. Dia bermimpi aku yang
mendefinisikannya. Kadang jika ia sedang tersesat di dunia imajiner miliknya,
aku terpaksa menariknya lagi ke dunia nyata. Dan membangunkannya untuk
mewujudkannya. Aku tidak percaya belahan jiwa, itu terlalu melankolis untuk
otak rasionalku. Tapi dia adalah satu – satunya puzzle yang bisa melengkapiku
di antara jutaan manusia yang ada di muka bumi ini.
Di saat teman – teman seangkatan kami sudah berkarir
di pekerjaannya masing – masing. Gilang masih berjuang di kampus. Tentu bukan
karena hidupnya berantakan jadi dia tidak juga lulus. Justru karena sejak awal
dia sudah menemukan tujuan hidupnya. Bagi orang lain kuliah adalah alat untuk
mencapai kesuksesan. Tapi baginya, kuliah adalah tempatnya duduk dan belajar
dari maha guru – maha guru di kampus. Sementara kesuksesan bisa didapat meski
kita hanya seorang lulusan sekolah dasar.
“Bukan tempat yang mendefinisikan kualitas kita Re.
Tapi kita sendiri.” Katanya satu setengah tahun lalu. Hari dimana aku wisuda
sementara ia baru membuka perusahaan kecilnya. Perusahaan yang menurut
analisisku akan menggurita dan meraksasa dalam waktu lima belas tahun ke depan.
Tak banyak yang berani memilih langkah seperti yang diambilnya, langkah yang
berbeda dari yang lain.
Ketika orang – orang sepertiku memilih langkah aman
yang biasa, lulus kuliah cari kerja dan berkarir di sana. Dia memilih menciptakan
sendiri peluangnya. Aku tidak sedang menunggu orang yang hebat di mata dunia
untuk datang, aku menunggu laki – laki yang sederhana itu yang mungkin gagal di
mata orang lain, tapi aku tahu akan jadi seperti apa dia kelak. Dunia hanya
sedang menutup matanya darimu.
——
Ping. Suara notifikasi personal chat masuk ke ponsel ku. Gilang.
“Re, lo dateng ke nikahan Lian?”
“Dateng. Lo?”
“Dateng juga. Btw kapan nih giliran lo kasih
undangan?” Pertanyaan yang klise sekali.
“Lo dulu lah.” Jawaban yang juga klise sekali.
“Nanti lah Re. Gue masih malu sama diri gue. Masih
belom ada apa apanya. Nanti kalo misalnya gue ditanya mau kasih makan apa anak
orang? Gue gak bisa jawab.”
“Cupu banget sih gitu aja takut.” Bodoh. Kali ini
aku sungguh – sungguh menganggap betapa bodohnya dia. “Lagi pula kan lo udah
punya perusahaan sendiri. Meskipun masih berjuang di tahun pertamanya.”
“Gue mau berjuang lebih layak lagi Re buat dia.”
Aku tahu siapa dia. Aku sadar siapa dia yang gilang
sebut itu. Aku bahkan tahu tanpa sadar ia berbohong. Berbohong seperti alasan
banyak laki – laki pada umumnya. “Berjuang agar lebih layak untuk seseorang.” Meski
tahu, entah kenapa aku hanya ingin menunggu sedikit lebih lama. Aku ingin
menunggu dia sadar.
“Selamat berjuang kalo gitu ya. Kabari paling cepet
pokoknya kalo lo udah nyebar undangan.” Basa – basi klise.
“Siaap!”
——–
“Re..”
“Ya.”
“Kapan lo nikaah?” Teriak Ara geram dari seberang
telepon. Sahabat yang menyebalkan. Menelponku pagi buta begini hanya untuk
menanyakan hal itu. Di Jakarta memang sudah siang, tapi di Leiden ini masih
sangat pagi.
Aku Realita, 27 tahun calon doktor. Tiga tahun yang
lalu akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan studiku ketika ada tawaran
beasiswa datang di depan mataku. Kesempatan tak datang dua kali.
“Re.. gue udah punya anak dua lo masih single gitu. Jangan
ngejar karir dan gelar mulu lah. Pikirin masa depan lo.”
“Karir dan gelar kan juga masa depan.” Aku
berbohong, berpura – pura jadi orang yang berpikiran dangkal.
“Emang karir sama gelar lo yang bakal nemenin hari
tua lo?”
“Emang suami juga udah pasti ngejamin nemenin sampe
tua? Bisa jadi mati duluan.”
“Re..”
“Ra..”
“Re! Udah pokoknya gue bakal hubungin om buat maksa
lo balik indo dan nikah secepetnya.”
“Dih.. kok lo jadi ngatur gini.”
“karena gue sayang sama lo Cinta..”
“Iya makasih cinta.”
Tut.. telepon kuputus. Baiklah sepertinya sudah
saatnya aku berhenti menunggu. Setelah telepon Ara, ayah mengirimkan pesan
untuk memintaku pulang ke Jakarta bulan depan.
——
“Namanya Ryan. Lulusan S2 Suriah. Anaknya baik
secara agama maupun budi pekerti. Cerdas juga, jadi tentu cocok sama Rea.” Ayah
memaparkan dengan pelan – pelan profil anak temannya. Aku menghela napas. Aku
percaya pada Ayah. Tidak ingin mengecewakannya. Sepertinya Ayah suka sekali
pada Ryan. Aku juga sudah tak punya alasan untuk menunggu. Orang yang kutunggu
sepertinya tak kunjung siap.
“Kalau menurut ayah dia baik. Rea percaya Ayah.”
Sudah kuputuskan masa depanku. Aku Realita, yang
selalu realistis. Aku jarang menggunakan perasaanku dalam menilai sesuatu, aku
lebih suka menggunakan logika di setiap langkah hidup yang kuambil. Karena
perasaan justru menuntunku pada penantian yang terlalu panjang yang entah
dimana ujungnya. Membuang – buang waktuku saja.
——-
“Cie yang besok lamaran. Deg degan gak Re?” Goda
Ara. Hari ini Ara menginap di rumahku untuk membantuku dan Ibu menyiapkan
segala hal.
“Biasa aja.”
“Bohong.”
“Sedikit deg degan. Tapi ngapain juga deg degan
orang besok temu keluarga membicarakan sebuah topik, dan selesai.”
“Re.. jangan mulai.”
“Hehehe. Iyaaaa gue deg degan bangeet.”
Ponselku tiba -
tiba berbunyi. Aku melihat layar ponselku dan sedikit terkejut melihat
nama yang tertera, Gilang. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya.
“Hallo.”
“Hei. Re. Gue dapet kabar lo udah balik ke Jakarta
ya.”
“Iya nih.”
“Gimana kabar lo?”
“Baik Lang. Lo?”
“Baik..”
“Oia ada apa nih?” Tanyaku penasaran. Hening di
sana.
“Langsung aja ya Re.. sebenernya ada yang gue pengen
sampaikan ke lo. Udah dari lama, tapi gue baru berani bilang ini sekarang.” Dia
diam sejenak.
“Oke..” Kataku. “Apa itu?”
“Sejak dulu banget gue suka sama lo Re. Cuma gue ga
berani bilang. Gue takut lo tolak. Lagipula lo kan ga pernah mau pacaran, bagi
lo pacaran itu cuma hubungan gak logis yang buang – buang waktu.”
Aku tahu. Aku sudah lama tahu. Menilai orang adalah persoalan hipotesis yang kemudian lo buktikan
dengan validasi – validasi. Cuma soal menghitung peluang kebenaran hipotesis
yang dipunya aja Ra. Itulah uniknya perasaan, kita akan selalu sabar menunggu seseorang mengatakannya langsung sendiri, meski mungkin kita telah lama tahu. Meski kadang, pada kenyataannya banyak perasaan yang tak pernah dan tak bisa tersampaikan.
“Sejak lo lulus gue ingin dateng ke ayah lo untuk
meminta lo jadi temen hidup gue. Tapi gue ga berani, gue masih belum punya apa –
apa dan belum bisa membuktikan apa – apa. Gue belum siap, belum layak.”
Aku tahu. Itu sebabnya aku pernah bilang ia sangat
bodoh. Lagi pula kan lo udah punya
perusahaan sendiri. Meskipun masih berjuang di tahun pertamanya.
“Intinya saat itu gue ingin berjuang biar lebih
layak buat lo.”
Bohong. Ia bohong seperti pemikiran laki – laki pada
umumnya. Ia tidak sedang berjuang untukku. Ia berjuang untuk harga dirinya
sendiri. Ia berjuang untuk rasa malunya sendiri.
“Sekarang gue merasa gue udah cukup layak buat lo.
Udah memupuk keberanian dan bilang ini ke lo. Dan ingin memperjuangkan restu ke
ayah lo. Gue udah punya modal yang membuat gue cukup pantas untuk meminta lo
dari Ayah lo.”
Sayangnya ia tak berjuang dengan usaha yang
seharusnya. Memperjuangkan seseorang bukan hanya dengan kelebihan dan apa yang
kita punya. Memperjuangkan seseorang dengan paling berani adalah memperjuangkan
dia meski dengan segala kekurangan yang kita punya. Dan ia tidak melakukan itu
semua, hingga semua yang dikatakannya menjadi sebuah pernyataan yang ditunggu
namun terlambat datang.
Ada perasaan yang hendak berkecamuk dalam diriku. Tapi
aku menahannya, ia tak boleh dilepaskan sekarang. Tak boleh dilampiaskan. Tak
seharusnya aku dipermainkan perasaanku sendiri. Aku tak mungkin membatalkan
rencana pernikahanku yang sebentar lagi dilaksanakan. Ini bukan drama yang
menegangkan dimana semua akan happy
ending dengan keputusan keputusan tak logis dan radikal. Aku harus realistis,
bahwa kereta yang datangnya terlambat tak layak untuk disesali. Ada dua
keluarga yang jika aku bodoh mengambil keputusan, akan menyebabkan kerusakan
yang parah. Kebahagiaan tak selamanya datang dengan memilih sesuatu yang aku
inginkan. Aku menghela napas panjang.
“Terima kasih untuk pernyataannya. Tapi maaf banget
Lang, lo gak bisa ke Ayah gue.”
“Kenapa Re? Lo ga mau nerima gue ya?”
“Bukan gitu..” Terhenti. “Besok gue lamaran.”
“Oh…” Hening di sana.
Setelah berbasa basi, panggilan terputus oleh ucapan
‘Bye, semoga bahagia ya…’
Klik. Aku diam cukup lama, tak bisa mendefinisikan
perasaanku sekarang. Aku ingin marah entah marah pada siapa. Aku ingin teriak
entah teriak pada siapa. Beberapa detik kemudian aku segera menguasai diriku.
Rasionalitasku membungkus emosiku untuk tetap jernih. Aku sudah memutuskan.
“Siapa Re?”
“Gilang.”
“Hah? Gilang yang dulu lo cerita pernah suka itu?”
“Yep.”
“Ngapain dia?”
“Mau dateng ke Ayah.”
“Ngelamar?”
“Iya.”
“Terus .. terus?” Ara antusias. Baginya pasti
ceritaku ini macam sinetron yang dramatis.
“Gue bilang aja besok gue lamaran.”
“Tapi lo masih suka sama dia Re?”
“Masih. Tapi apalah arti rasa suka Ra. Dia cuma satu
di antara perasaan yang manusia punya. Gak lebih. Masa depan ga seharusnya cuma
diserahkan sama emosi emosi macam itu kan.” Aku berbohong.
“Dasar perempuan es.”
“Hehe.”
Malam itu aku menangis. Menumpahkan semua hal. Tidak
pernah ada yang salah dengan skenario takdir, hanya manusia yang sering salah
menetapkan rasa.
Aku Realita yang selalu realistis. Kereta yang
datang terlambat, memang tak pernah layak untuk disesali.
—-
Sumber gambar : pinterest.com
Heart-breaking. Kalau kata room-mate ane, yang memberi harapan akan selalu dikalahkan dengan yang memberi kepastian. Mutlak.
Cari orang yang mau menerima kekurangan kamu, jatuh cinta sama keanehan kamu, tapi nggak membiarkan kamu memelihara sifat-sifat burukmu. Kamu itu kacau, perlu diperbaiki, pakai cinta.